Kamis, 16 Maret 2017

Agama Tidak Sekedar Kata-Kata

Manusia Indonesia adalah manusia yang agamis sejak zaman pra sejarah. Ini mengindikasikan bahwa sejak nenek moyang kita orang Indonesia sudah mempercayai adanya “sesuatu” yang lebih besar dan lebih kuat dari dirinya Yang Mengatur Alam Semesta. Mulai dari animisme dan dinamisme berganti kepada ajaran Hindu Budha dan sekarang yang mayoritas adalah Islam. Enam agama yang bercokol di Indonesia Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan yang resmi terakhir adalah Konghucu. Simbol agama yang 6 ini turut mewarnai pembangunan SDM dan SDA yang sedang mengantarkan Indonesia dari julukan negara berkembang menuju negara Adi Daya atau Super Power.

Agama yang datang ke Indonesia adalah dalam rangka membangun bukan menghancurkan. Dalam rangka memperbaiki bukan merusak. Dalam rangka mengayomi bukan menindas. dalam rangka melindungi bukan memperbudak. Dalam rangka menentramkan bukan memperkeruh situasi. Agama dibutuhkan untuk membangun jiwanya dan membangun badannya. Terlebih Islam, (sebab ideologi agama penulis sendiri Islam) Islam adalah Agama yang membebaskan dari belenggu kegelapan kepada cahaya (minadzulumati ilannur), membebaskan dari perbudakan manusia yang biadab kepada manusia yang beradab, membebaskan dari kebodohan menuju manusia yang pandai bijaksana.

Sebagai agama pembebas, tentu saja ajaran Islam menuntut pemeluknya untuk konsekuen mengamalkannya. Bukan saja konsekuan mengucapkannya, bukan saja konsekuan mendiskusikannya, bukan saja konsekuan mendakwahkannya, bukan saja konsekuen membicarakannya. Islam dan Agama seharusnya bukan sekedar kata-kata. Islam adalah cinta dan pengabdian. Jika kita berbusa-busa berceramah tentang teori ajaran islam semata tanpa bukti pengamalan maka Islam sendiri akhirnya menjadi dogma di menara mercusuar yang tak menyentuh bumi.

Islam Agama cinta dan pegabdian. Cinta dan pengabdian membutuhkan kesadaran dan keikhlasan.Gemar memberi tidak menuntut. Gemar menanam jasa anti tertanam jasa. Wujud transendental Islam adalah pada pemeluknya yang membawa Islam sebagai cinta dan pengabdian. Selayaknya kekasih, ia akan selalu mendekat bukan menjauh, akan menyayangi bukan membenci, akan memperhatikan bukan memvonis, akan membebaskan bukan membelenggu.\

Cinta bukan sekedar kata-kata indah. Itu namanya gombal. Berislam juga tidak cukup hanya dengan kata-kata yang berbau agama, itu juga raja gombal. Islam adalah totalitas dari gerak hati, ucapan dan perbuatan. Ajaran Islam yang indah janganlah kita nistakan sendiri oleh kita pemeluknya. Jika dinista oleh pmemluk bukan Islam itu sudah menjadi sunnatullah. Mereka tidak akan ridlo sampai umat Islam berpindah Aqidah. Namun yang ironis adalah kita sendiri yang menista agama kita sendiri dengan cara tidak konsekuen dengan ajarannya. Kita sendiri yang tidak mau mengakkan amaliah ajaran Islam. Kita sering melanggar ajaran Islam itu sendiri tanpa merasa bersalah. Jika merasa bersalah itu masih ada kesempatan untuk taubat. Merasa melanggarpun tidak. Islam perlu bukti bukan bualan dan teori dan dogma saja. Kita sangat memerlukan orang-orang yang selalu mencinta dan mengabdi. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk Maha Cinta dan Maha Pencipta.

Kata-kata yang paling sederhana dalam ajaran Islam sangat indah dan sederhana. Kita mencintai dengan kata-kata yang sederhana. Namun perlu mati-matian dan sepenuh jiwa untuk merealisasikannya. Misalnya kata ikhlas, cukup familier di telinga kita namun menerapkan keihklasan dalam kehidupan kita, luar biasa sulitnya. Bukan karena ajaran ikhlas yang mempersulit tetapi jiwa kita yang masih belum selaras dengan ajaran itu. Kita masih serakah, kita masih memerlukan pengakuan, kita masih ingin di puji setiap melakukan kebaikan. Kita sendiri belum bisa menghayati bahwa Islam adalah cinta dan pengabdian kepada Sang Kholik semata.

Misalkan kita berceramah tentang pentingnya shalat duha, sederhana saja. Namun pada dasarnya jika kita tidak pernah melakukan shalat duha maka sebenarnya kita telah berbohong dan menista diri kita sendiri. Junjungan kita Nabi SAW tercinta, selalu mengajak dan memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri sudah melakukan. Dengan begitu kita akan tidak sembarangan mendakwahi, menceramahi, atau memerintah orang lain dalam hal agama. Koreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Hasiibu qobla antuhasabuu. Awali dari diri sendiri ibda’ binafsik. Barang siapa yang berusaha mengenal dirinya maka ia sebenarnya berusaha mengenal Tuhannya. Barang siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik maka dalam bergama ia akan mengenal arti cinta dan pengabdian dengan sebenar-benarnya. Karena kebenaran yang mutlak adalah miliknya. Jika kita didekati oleh-Nya maka kita akan difahamkan akan agama. Kejayaaan agama itu sendiri terletak pada keikhlasan para pemeluk-pemeluknya.

Islam sendiri merupakan esensi ajaran akhlak mulia. Jika Nabi SAW adalah Al Quran berjalan, maka siapa lagi yang akan kita jadikan uswatun hasanah kecuali Beliau. Beliau diutus ke dunia ini dalam rangka menyempurnakan akhlak. Akhlak tidak sekedar pintar tetapi lebih mengedepankan rasa dan estetika. Dalam etimologi Jawa ada “bener” ada “pener”. Bener belum tentu pener tetapi kalau pener pasti sudah dianggab bener. Terkadang karena tingginya pendidikan misalnya S3, dia memandang sebelah mata orang yang hanya lulusan SD saja terhadap pendapatnya tentang fenomena yang paling baru. Secara teori benar saja si S3 lebih bisa berpendapat secara lebih runtut namun menghina si SD ini tidak pas. Seharusnya jika dengan akhlak mulia ini, si S3 seharus justru lebih bisa mendengar orang lain, lebih bisa menghargai, lebih santun, lebih “ngemong wong cilik”, lebih santun dalam membicarakan sesuatu dengan kelas pendidikan di bawahnya. Jika dia bisa menghargai maka akhlak si S3 ini akan selalu diingat oleh si SD dari pada sebarek keilmuannya. Nantinya kehormatan si S3 ini bukan lagi atas tingginya ilmu tetapi karena tingginya Akhlak. Wallahu A’lam.

Selasa, 14 Maret 2017

14 Kiat Sukses Hidup Bahagia

Banyak cara untuk hidup bahagia. Bahagia adalah cara pandang. Bahagia adalah efek ideologi, konsep, dan perilaku kita dalam memandang hidup. Kita tentu saja ingin menjadi manusia yang selalu bahagia. Kebahagiaan itu hanya bisa terjadi jika seseorang menyandarkan hidupnya hanya pada Allah. Kita ingin hidup sukses di dunia dan juga sukses di akhirat. Kita ingin bahagia di dunia juga bahagia di akhirat. Meskipun di dunia ini selalu berpasang-pasangan misalnya ada siang ada malam, ada bahagia ada duka. Meski demikian para kekasih-kekasihnya menjalani kehidupan di dunia ini sudah dalam keadaan bahagia. Manusia mana lagi yang akan kita jadikan teladan dalam hal kebahagiaan kecuali hanya para kekasih-kekasihNya. Mereka tidak merasa ketakutan dan tidak pula bersedih hati. Mereka menjadi manusia paling bahagia di dunia dan di akhirat. Dalam situasi apapun, kapanpun dan dimanapun mereka akan bahagia karena kebahagiaan bagi mereka adalah menyendiri berdua bersama Rabb-nya. Mereka bermesraan bersama kekasihnya. Tak sedetikpun mereka ingin terlepas ingatan dan hidupnya dengan Kekasih Yang Maha Agung yaitu Allah SWT.

Adapun 14 kiat sukses agar kita bisa hidup bahagia yaitu :
1. Taqwa
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". (QS Ath Thalaq).
Sesungguhnya manusia dihadapan-Nya sama, sama-sama makhluk-Nya yang lemah dan tak berdaya. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya. Hanya taqwa-lah yang membedakan derajat kepangkatan di hadapan-Nya. Bukanlah kepandaian, kecantikan, kekayaan, dan jabatan yang menjadi ukuran akhirat. Semoga kita termasuk muttaqin.

2.  Tawakkal
Nabi SAW bersabda: "Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pergi pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang". (HR Ahmad, At Tharmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim dari Umar Bin Khattab r.a).
Menyandarkan segala persoalan terhadap Allah SWT adalah hal utama dan pertama. Maka usaha apapaun hasilnya kita akan menerima dengan lapang dada dan penuh syukur karena sudah menyandarkan kepada-Nya bahwa hasil berapapun berasal dari pemberian-Nya.

3. Shalat Duha 
Firman Allah dalam hadits Qudsi : "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (shalat duha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya". (HR Al Hakim dan Thabrani).
Betapa banyak hal yang bisa kita lakukan sebenarnya untuk menarik simpati dari Allah SWT. Banyak hal yang bisa kita usahakan agar menambah perhatian Allah kepada kita. Salah satunya shalat duha. Shalat yang sering terlewatkan di pagi hari karena star bekerja rata-rata pada waktu pagi. di saat-saat seperti itu kita berusaha menyapa-Nya. Maka alangkah bahagia kita bisa menyapa Dia disela-sela kesibukan dengan bersujud pada-Nya.

4. Shalat Tahajud

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS Al Isra': 79)
Dalam surah Adz Dzariyaat : 15 - 18

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (١٥) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (١٦) كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (١٧) وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (١٨

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar".

5.Istighfar
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim hujankan hujan padamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS Nuh: 10-12).
"Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesimpatannya kelapangan, dan  Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka". (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim).

6. Silaturrahmi
Imam Bukhari r.a meriayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim."

7. Sedekah
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS AL Baqarah: 261).
Sabda Nabi SAW: "Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena (sedekah kepada) orang-orang lemah di kalangan kamu." (HR Bukhari)

8. Berbuat Kebaikan
"Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan". (QS Al Qashash: 84).
Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan dzalim pada hambanya yang berbuat kebaikan, dia akan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat." (HR. Ahmad).

9. Bangun Lebih Pagi
Fatimah r.a (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau SAW mengatakan padanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari". (HR Al Baihaqi).
Aisyah r.a juga menceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah SAW bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan." (HR At Thabrani).

10. Bersyukur
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita ingin menjadi hamba yang bersykur/abdan syakuura. kehidupan ini layak untuk kita syukuri bila kita kenal dengan Pencipta Kehidupan. Bagi mereka yang kenal dengan-Nya maka tidak ada alasan untuk kufur akan segala nikmat-Nya. Semakin kita akrab dengan-Nya semakin kita akan mensyukuri kehidupan.Semoga kita diberikan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan baik kehidupan dunia maupun kehidupan di kahirat nanti. Amiinn.

11. Baca Al Quran
Membaca Al Quran adalah mutlaq bagi para pencari kebahagiaan. Karena Al Quran adalah obat dari segala obat. Al Quran adalah sumber jawaban dari banyak pertanyaan. Membaca al Quran memberi efek bahagia. Maca Al Qur'an angen-angen sak maknane jika mampu. Jka belum mampu cukup rutin membaca Al Qur'an saja. Lakukan saja maka akan mendapatkan pahala. Itulah bedanya perkara agama dan perkara dunia. itulah bedanya bacaan yang mengandung unsur ilahi dan bacaan yang hanya sekedar bacaan yang bersifat imajinasi dan keduniaan. Jika Al Qur'an dibaca-baca berulang-ulang akan mempunyai efek tertentu bagi si pembaca. Namun jika kita membaca bacaan yang kita tidak tahu artinya misalnya novel dalam bahasa arab maka tidak akan terjadi efek yang signifikan pada diri pembacanya.

12. Deket Dengan Orang Shalih
Dengan dengan dekat sama para ulama, auliya dan shalihin kita akan terkena asrarnya Kanjeng Nabi SAW. Telak kita akan merasakan sesuatu yang luar biasa bahagia mendapat setrum dari kanjeng Nabi dan mereka-meraka.

13. Berpuasa
Maksudnya adalah menambah diri dengan puasa-puasa sunnah selain dari puasa yang wajib.

14. Perbanyak Dzikir 
Firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyak nya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi maupun petang!”.

Dan firman-Nya:                         فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ………..
“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)

Firman-Nya :                             اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم
“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”.  (Ali Imran :191)

Firman-Nya :                           وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ
مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا.
“Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”.   (Al-Ahzab :35)

Firman-Nya lagi :                                    الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ
                        ألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ.

“Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”.     (Ar-Ro’d : 28)

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda : Allah swt.berfirman :
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة.
“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori  Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Wallahu a'lam.

Senin, 13 Maret 2017

Orang Yang Haram Tersentuh Api Neraka

Subhanallah, tentu kita sangat menginginkan  menjadi orang yang haram tersentuh api neraka. Mengingat kita terlalu banyak dosa, kedzoliman dan maksiyat yang kita perbuat. Kita akan malu sendiri bila melihat Kemurahan dan Kemaha Sayangan Allah terhadap kita. Tanpa Cinta dan KasihNya kita ini bukan apa-apa. Tanpa RahmatNya kita adalah setitik debu yang hancur berkepin-keping. Kita selalu berharap mendapat rahmat dan pertolongan dari-Nya. Hampir bisa dipastikan bahwa kita tentu saja akan merasakan api neraka kecuali Allah sendiri yang membebaskan dan mengampuni kita. Inilah tipe-tipe orang yang haram tersentuh api neraka. ٍSesuai hadits di bawah ini :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلى الله عليه وسلّم, قَالَ : أَلاَ أَخْبِرُكُمْ بْمَنْ تُحَرِّمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ قَالُوْ : بَلَى يَا رَسُوْلَاللهِ, قَالَ : عَلَى كُلِّ هَيِّنٍ, لَيِّنٍ, قَرِيْبٍ, سَهْلٍ
 Artinya: "Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka? Para sahabat berkata; "Iya wahai Rasulullah!". Beliau menjawab: "(Haram tersentuh api neraka) orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl". (HR At Tarmidzi dan Ibnu Hibban).

Hayyin
Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir bathin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya .

Layyin
Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata atau berbuat. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Tidak galak, yang suka memarahi orang yang berbeda pendapat dengannya. Tidak suka melakukan pemaksaan pendapat. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.

Qorib
Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan orang bagi yang mengajak bicara. Biasanya murah senyum jika bertemu manusia yang lain. Ramah berasal dari kata "rahmah" yang artinya penuh kasih sayang. Maka jadilah orang yang ramah agar diri menjadi pribadi yang penuh kasih sayang.

Sahl
Orang yang tidak suka mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan membuat orang lain lari dan menghindar .

Ternyata orang haram tersentuh api neraka adalah mereka-mereka yang berakhlak mulia terhadap sesama, welas asih dan senyum sapa salam. Tentu saja, karena akhlak lebih tinggi dari pada ilmu. Orang yang berilmu kemudian akhlaknya selamat maka inilah manusia-manusia pilihan yang memang pantas menjadi orang yang haram tersentuh api neraka.Wallahu a'lam.

Jumat, 10 Maret 2017

Ayat 1 Al Fatihah

Allah memulai kitab-Nya dengan basmalah, dan memerintahkan Nabi-Nya sejak dini pada wahyu pertama untuk melakukan pembacaan dan semua aktivitas dengan nama Allah. Iqra bismi rabbika, maka tidak keliru jika dikatakan basmalah merupakan pesan pertama Allah kepada manusia; pesan agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan nama Allah.

Memulai dengan nama Allah adalah adab dan bimbingan pertama yang diwahyukan Allah kepda Nabi-Nya: Iqra bismirabbika. Permulaan itu sesuai dengan kaidah utama ajaran Islam yang menyatakan bahwa adalah al-Awal wa al-Akhir wa azh_zhahir wa al-Bathin / Dia yang pertama dan Dia pula yang terakhir, Dia yang nampak dengan jelas (bukti-bukti wujud-Nya) dan Dia pula yang Tersembunyi (tehadap siapapun hakikat-Nya). Dia yang maha suci itu metrupakan wujud yang haq, yang dari-Nya semua wujud memperoleh wujudnya, dan dari-Nya bermula semua yang memilikim permulaan. Karena itu dengan nama-Nya segala sesuatu harus dimulai dan dengan nama-Nya terlaksana setiap gerak dan arah. 

Makna ba’yang dibaca bi pada bismilah 
Ba’atau(dibaca bi) yang diterjemahkan dengan kata dengan mengandung satu kata atau kalimat yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas didalam benak ketika mengucapkan Basmalah, yaitu kata “memulai”, sehingga Bismilah berarti “saya atau kami memulai apa yang kami kerjakan ini –dalam konteks surah ini adalah membaca ayat-ayat al-Qur’an – dengan nama Allah”. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi semacam do’a atau pernyataan dari pengucap, bahwa ia memulai pekerjaannya atas nama Allah. Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintahyang menyatakan “Mulailahpekerjaanmu dengan nama Allah”.

Apabila seseorang memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah atau atas nama-Nya, maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik, atau paling tidak, pengucapnya akan terhindar dari godaan nafsu, dorongan ambisi atau kepentingan pribadi, sehingga apa yang dilakukannya tidak akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain, bahkan akan membawa manfaat bagi diri pengucapnya, masyarakat, lingkungan, serta kemanusiaan seluruhnya.

Ada juga yangt mengaitkan kata bi (dengan) dengtan memunculkan dalam benaknya ”kekuasaan”. Pengucap “basmalah” seakan-akan berkata: “Dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya pekerjaan yang saya lakukan ini dapat terlaksana”. Pengucapnya ketika itu (seharusnya) sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya apa yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil. Dengan demikian, ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama pula (Setelah menghayati arti Basmalah ini), ia memiliki kekuatan dan rasa pecaya diri karena ketika itu dia telah menyandarkan dirinya kepada Allah dan memohon bantuan Yang Maha Kuasa itu.

Rasulullah saw. Bersabda : “Setiap perbuatan yang penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ maka perbuatan tersebut cacat”. Ketika membaca Basmalah dan memulai suatu pekerjaan, apapun jenis pekerjaan itu, misalnya makan, minum, belajar, berperang bahkan bergerak dan diam sekalipun, kesemuanya harus disadari bahwa titik tolaknya dalah Allah swt. Dan bahwa ia dilakukan demi karena Akkah. Ia tidak mungkin dapat terlaksana kecuali atas bantuan dan kekuasaan Allah swt.

Kata Isim terambil dari kata as-Summun yang berarti tinggi, atau as-Simah yang berarti tanda. Memang nama menjadi tanda bagi sesuatu serta harus dijunjung tinggi. Kini timbul pertanyaan: “kalau kata isim demikian itu maknanya dan kata bismi seperti yang diuraikan diatas maksudnya, maka apa gunanya kat isim disebut disini. Tidak cukupkah bila langsung saja dikata Dengan Allah? Sementara Ulama secara filosofis menjawab bahwa nama menggambarkan substansi sesuatu, sehingga kalau disini dikatakan Dengan Nama Allah maksudnya adalah Dengan Allah. Kata isim menurut mereka digunakan disini sebagai penguat. Dengan demikian, makna harfiah dari kata tersebut tidak dimaksudkan disini. Memang dikenal dalam syair-syair lama penyisipan kata Isim untuk tujuan tersebut.

Az-Zamakhsyari dan banyak ulama tafsir mengemukakan bahwa orang-orang Arab, sebelum kehadiran Islam, memulai pekerjaan-pekerjaan mereka dengan menyebut nama Tuhan mereka, misalnya Bismi al-lata atau bismi al-‘uzza’, sementara bangsa-bangsa lain memulainya dengan menyebut nama raja atau penguasa mereka. Kalau demikian, memulai pekerjaan dengan nama Allah, berarti pekerjaan itu dilakukan atas perintah dan demi karena Allah, bukan atas dorongan hawa nafsu.

Kesimpulannya adalah, setiap hal yang diharapkan darinya keberkatan Allah atau dimaksudkan demi karena Allah, maka disisipkan kata Isim, sedang bila dimaksudkan demi permohonan kemudahan dan bantuan Allah maka kata yang digunakan langsung menyebut Allah / Tuhan tanpa menyisipkan kata Isim. Dalam hadis nabi saw pun demikian itu halnya. Salah satu do’a beliau adalah Allahuma bika nushbika wa numsi (Ya Allah dengan Engkau kami memasuki waktu pagi dan petang) yakni dengan kekuasaan dan iradat-Mu, kami memasukinya. Sebelum tidur beliau berdo’a Bismika Allahuma Ahya Wa Amut/dengan nama-Mu Ya Allah aku tidur dan bangun yakni demi karena Engkau aku hidup dan mati. Do’a ini sejalan dan semakna dengan perintah-Nya: katakanlah : “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta Alam” (QS al-An’am :162).

Oleh karena itu, ketika kita memulai suatu pekerjaan dengan “nama” Allah, maka berdasarkan analisis diatas pekerjaan tersebut diharapkan kekal disisi-Nya. Disini yang diharapkan kekal bukan Allah-karena Dia adalah Maha Kekal, tetapi pekerjaan yang dilakukan itulah yang kekal, dalam arti ganjaran yang kekal sehingga dapat diraih kelak di hari kemudian. Memang banyak pekerjaan yang dilakukan seseorang, bahkan boleh jadi pekerjaan besar, tetapi tidak berbekas sedikit pun serta tidak ada manfaatnya bukan hanya diakhirat kelak, didunia pun dia tidak bermanfaat. Allah berfirman: “Kami hadapi hasil karya merekakemudian kamijadikan ia (bagaikan) debu yang berterbangan (sia-sia belaka)” (QS al-Furqan :23).

Penulisan kata “bismi” dalam basmalah tidak menggunakan huruf “alif”, berbeda dengan kata yang sama pada suroh Iqra’, yang tertulis dengan tata cara penulisan baku yakni menggunakan huruf alif. Persoalan ini menjadi bahasan para pakar dan Ulama. Pakar tafsir al-qurthubi berpendapat bahwa penulisan tanpa huruf Alif pada Basmalah adalah karena pertimbangan praktis semata-mata. Kalimat ini sering ditulis dan diucapkan, sehingga untuk mempersingkat tulisan ia ditulis tanpa Alif. 

Rasyad Khalifah berpendapat bahwa ditanggalkannya huruf “alif” pada Basmalah, agar jumlah huruf-huruf ayat ini menjadi sembilan belas huruf, tidak dua puluh. Ini karena 19 mempunyai rahasia yang berkaitan dengan al-Qur’an. 

Makna kata Allah 
Kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling populer. Apabila kita berkata ”Allah” maka apa yang kita ucapkan itu, telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain. Disisi lain tidak satupun dapat dinamai Allah, baik secara hakikat maupun mazaz, sedang sifat-sifat-Nya yang lain, secara umum dapat bdikatakan bisa disandang oleh makhluk-makhluk-Nya.

Dari segi makna dapat dikemukakan bahwa kata Allah mencakup segala sifat-sifatnya, bakhan Dia lah yang menyandang sifat-sifat tersebut. 

Ar-Rahman ar-Rahim 
Kata Ar-Rahman dan Ar-rahim berakar dari kata rahim yang berarti rahmat. Ar-rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedang dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya.

Ada juga Ulama yang mehami kata ar-Rahman sebagai sifat Allah swt yang mencurahkan rahmat yang sementara di dunia, sedang ar-Rahim adalah rahmat-Nya yang bersifat kekal.

Sementara Ulama menjelaskan makna penggabungan kata Allah, ar-Rahman dan ar-Rahim dalam Basmalah. Menurutnya, seseorang yang kalau bermaksud memohon pertolongan kepada Dia yang berhak disembah serta Dia yang mencurahkan aneka nikmat , kecil dan besar, maka yang bersangkutan menyebut nama teragung dari Dzat yang wajib wujudnya itu sebagai pertanda kewajaran-Nya untuk dimintai. Selanjutnya menyebut sifat rahmat-Nya (rahman) untuk menunjukan bahwa Dia wajar melimpahkan rahmat sekaligus wajar dimintai pertolongan dalam amal-amal kebajikan karena yang demikian itu nikmat rahmat.

Ketika seseorang membaca Basmalah, seharusnya menghayati kekuatan dan kekuasaan Allah, serta rahmat dan kasih sayang-Nya yang tercurah bagi seluruh makhluk. Kalau demikian itu yang tertanam didalam jiwa, maka pasti nilai-nilai lihur terjelma keluar dalam bentuk perbuatan, karena perbuatan merupakan cerminan dari suasana kejiwaan.

Kamis, 09 Maret 2017

Membaca Basmallah


Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, "Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur’an. Dan seluruh kandungan Al-Qur’an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillahirrahmanirrahiim.”"

Bahkan disebutkan dalam hadits lain, “setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa’, dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa’”.

Sebagian para Arifin menegaskan, “Dalam perspektif orang yang ma’rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan “kun” dari Allah”.

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa’, manfaat dan rahasianya.

Tujuan tulisan ini bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun darititik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.

Kerangka hubungan antara huruf Baa’ dengan Tititknya secara komprehensif akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa’itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa’, akhirnya pada titik.

Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya. Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya. Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua titik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.

Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.

Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.

Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.

Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.

Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.

Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”

Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw. tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut

Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, "Tafsirul Qur'anil Karim" menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta'ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian "Tidak membuat penyifatan".

"Ar- Rahman" adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

"Ar-Rahiim" adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, "Wahai Yang Muha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat".

Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempuma, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, "Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak".

Karena. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi - alaihimus salam - meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, "Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa". (Al-hadits).

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.
Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af 'aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa', "dari mana hilangnya Alif itu?" Maka Rasulullah saw, menjawab, "Dicuri oleh Syetan".

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa'nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, "Manusia diciptakan menurut gambaran Nya".

Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af'aal. Af'aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af'aal Allah dengan sirnanya tirai jagad raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af'aal, ia akan Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca "Bismillahirrahmaanirrahiim".

Tauhidnya af'aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, "Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu".

Rabu, 08 Maret 2017

WAJIB DAN SUNNAH

Wajib maksudnya sesuatu yang menjadi pokok. Sunnah maksudnya adalah nilai plus alias nilai tambah. jika mengerjakan wajib saja itu artinya masih sebatas melaksanakan yang memang sudah menjadi tugas pokok. Jika memamng sudah menjadi tugas inti artinya kita belum mendapat apa-apa. anggaplah yang paling baik jika mengerjakan yang wajib adalah impas.

Ibarat orang tua yang menugaskan anak untuk belajar jika masih ada waktu kemudian si anak menyapu rumah dan mencuci piring. Belajar menjadi kewajiban sedangkan menyapu dan mencuci piring adalah amaliah tambahan alias sunnah. Jika belajar tidak terpenuhi terang saja orang tua akan menasehati dan mengingatkan. Namun jika belajar terpenuhi dengan baik kemudian melakukan pekerjaan positif lain selain belajar disitulah nilai plus si anak. Semakin banyak hal positif yang bisa dilakukan anak maka dimata orang tua anak tersebut tentu akan lebih dikasihi dan disayangi dibanding anaknya yang lain yang hanya belajar kemudian bermain-main.

Dari situlah sangat perlunya amalan nawafil yaitu point bagi diri. Melakukan sunnah berarti sejauh mana nilai diri menjadi berharga. Sesuatu yang sunnah itu bukan berarti terus di entengkan. Tidak melakukan sunnah berarti nilai diri menjadi nol atau nihil. Sunnah bukan perkara enteng, sunnah justru menjadi pelengkap yang harus disamping wajib.

Wajib dan sunnah adalah dua sisi mata uang. Uang akan berharga jika dua sisinya lengkap dan berfungsi. sebagaima wajib dan sunnah dalam amaliah adalah dua sisi yang sebanrnya tidak boleh ditinggalkan. Sunnah selalu mengiringi amaliah wajib. Akhirnya wajib dan sunnah merupakan suatu keharusan bagi insan yang mau naik derajatnya di dihadapan-Nya.

Jenis Manusia Berdasar Hukum 
Manusia wajib
Manusia wajib adalah jika kehadiran dan keberadaannya selalu  dibutuhkan dan tak bisa ditinggalkan. Dia dimanapun berada selalu melakukan kontribusi dan menebar kebaikan-kebaikan. Manusia seperti ini selalu menanam jasa dan anti tertanam jasa. Sehingga manusia model wajib ini mereka yang mempunyai kesadaran tertinggi terhadap perannya sebagai khalifah fil ardhl. Kesadaran mikrokosmos dan makrokosmos yang mampu memandang diri dan alam semesta adalah bagian yang satu yaitu tunduk dan mengabdi kepada pencipta dirinya dan alam semesta.

Manusia Sunnah
Manusia tipe sunnah ini adalah mereka-mereka yang kehadirannya selalu di tunggu dan diaharapkan. Mereka sebagai pendukung utama manusia wajib. Manusia seperti ini bersifat subtitusi, jika kebetulan darurat tidak ada maka akan muncul orang lain yang bisa menggantikannya. Manusia ini sebagai tangan kanan bagi manusia wajib. Mereka melengkapi dan selalu berusaha mensukseskan program-program dari manusia wajib. Mereka adalah tergolong sebagai kopasusnya para manusia wajib.

Manusia Mubah
Manusia Mubah adalah manusia pada umumnya. Manusia model seperti ini mengalir sesuai situasi dan kondisi yang melingkupinya. Manusia seperti ini tidak berbahaya tetapi juga bukan pengambil kebijakan. Mereka adalah jamaah yang berproses naik kelas menjadi manusia sunnah bahkan manusia wajib.

Manusia Makruh
Manusia makruh adalah manusia yang orang lain akan nyaman bila dia tidak ada. Keberadaanya justru sebagai duri penghalang dan pembuat masalah. Manusia troble maker. Manusia seperti ini adalah penguji keikhlasan dari ketiga jenis manusia di atas. Orang-orang seperti ini, orang lain akan lega bila tidak ikut mengambil kebijakan.

Manusia Subhat
Manusia Subhat adalah manuisia yang jati dirinya sulit dideteksi. Lebih mendekati kepada kemunafikan. Keberadaanya membuat orang lain bingung apakah dia dalam kelompoknya atau bukan. Apakah dia tulus atau berpura-pura. Manusia yang remang-remang. Ya juga tidak, tidak juga ya. Sekali bertindak yang tidak-tidak. Manusia tipe ini sungguh berbahaya dan perlu diwaspadai. Karena manusia seperti ini bertipe sebagai manusia yang esok tempe sore dele. Manusia plin plan. Manusia politik yang bertindak atas dasar kepentingan dirinya sendiri. Mana yang lebih menguntungkan maka mereka akan masuk kesana.

Manusia Haram
Mansua haram maksudnya adalah manusia yang jelas memusuhi dan berpihak kepada ketidak adilan atau kejahatan. Manusia model ini jelas dan terang - terangan tidak suka kepada program-program manusia wajib.
 Semoga bermanfaat!

Selasa, 07 Maret 2017

SERAT KALATIDHA KARYA : KI BAGUS BURHAN



SERAT KALATIDHA


Raden Ngabehi Ranggawarsita, Lahir pada tanggal 15 Maret 1802 dengan nama kecil Bagus Burham. Beliau meninggal dunia pada tanggal  24 Desember 1873, dalam usia 71 tahun, dimakamkan di desa Palar, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Serat Kalatidha karya R Ngabehi Ranggawarsita bukanlah ramalan seperti Jangka Jayabaya. Serat Kalatidha adalah serat yang berisi falsafah atau ajaran hidup R.Ngabehi Ranggawarsita. “Kala” berarti jaman dan “Tidha” adalah ragu. Berarti jaman penuh keraguan. Walau demikian banyak yang memberi pengertian “Kalatidha adalah jaman edan” mengambil makna dari bait ke tujuh serat ini. Bait ini menggambarkan situasi “edan” saat itu. Serat yang terdiri dari 12 pada (bait) tembang Sinom ini ditulis kira-kira tahun 1860an. Kita tidak mengalami era itu, tetapi melalui Ranggawarsita kita bisa membayangkan bahwa saat itu jaman sudah edan.
Konon Serat ini ditulis saat Ranggawarsita sedang dirundung kekecewaan sebab pangkatnya tidak dinaikkan seperti rencana semula. Tentunya ada sebab-sebab yang melatarbelakangi mengapa Sunan Solo membatalkan rencananya. Belum tentu karena Ranggawarsita kurang baik reputasi dan prestasinya. Tetapi hal seperti itu bisa saja terjadi dan sampai jaman sekarang pun masih terjadi. Kelebihan Serat Kalatidha bagi saya adalah, Ranggawarsita tidak berhenti pada kekecewaan, tetapi mengungkapkan pula bagaimana beliau mengelola stressnya. Sekaligus hal ini merupakan “pepeling” bagi kita, generasi-generasi setelah surutnya beliau.
Ada yang membagi syair Serat Kalatidha dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah “pada” (bait) ke 1 sd 6 yang merupakan kondisi tanpa prinsip, bagian kedua adalah “pada” (bait) ke tujuh  yang berisi tekad manusia untuk mawas diri, sedangkan bagian ke tiga adalah “pada” (bait) ke 8 sd 12 yang berisi ketaatan kita pada ajaran agama. Selanjutnya marilah  kita tengok bait perbait dari Serat Kalatidha yang kesohor ini. Semuanya dalam tembang “Sinom”.

BAIT PERTAMA: ANALISIS SITUASI
Mangkya darajating praja; Kawuryan wus sunyaruri; Rurah pangrehing ukara; Karana tanpa palupi; Atilar silastuti; Sujana sarjana kelu; Kalulun kala tidha; Tidhem tandhaning dumadi; Ardayengrat dene karoban rubeda
Makna dari bait pertama ini kurang lebih sebagai berikut: Keadaan negara yang demikian merosot karena tidak ada lagi yang memberi tauladan (karana tanpa palupi).Banyak yang meninggalkan norma-norma kehidupan (atilar silastuti). Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan (sujana sarjana kelu; kalulun ing kalatidha). Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah.
Pada bait pertama ini kelihatan bahwa ki Pujangga mencoba melakukan analisis situasi mengapa masalah ini terjadi. Yang di atas tidak memberikan tauladan, semua orang meninggalkan norma, para cerdik-cendekiawan terbawa arus keraguan.

BAIT KE DUA: PENGARUH JAMAN
Ratune ratu utama; Patihe patih linuwih; Pra nayaka tyas raharja; Panekare becik-becik; Parandene tan dadi; Paliyasing Kala Bendu; Mandar mangkin andadra; Rubeda angrebedi; Beda-beda ardaning wong saknegara
Makna dari bait ke dua kurang lebih sebagai berikut: (Sebenarnya) baik raja, patih, pimpinan lainnya dan para pemuka masyarakat, semuanya baik. Tetapi tidak menghasilkan kebaikan (Parandene tan dadi). Hal ini karena kekuatan jaman Kala bendu. Malah semakin menjadi-jadi. Masalah semakin banyak. Pendapat orang sat negara pun berbeda-beda (beda-beda ardaning wong sak nagara).
Pada bait ke dua ini tokoh kita menjadi geleng-geleng kepala, bingung. Mengapa mesti terjadi dan semakin menjadi-jadi padahal pimpinan dari atas ke bawah, termasuk tokoh informalnya semua baik. Mungkin karena pengaruh jaman yang dinamakan “Jaman kalabendhu”.

BAIT KE TIGA: KEKECEWAAN
Katetangi tangisira; Sira sang paramengkawi; Kawileting tyas duhkita; Katamen ing ren wirangi; Dening upaya sandi; Sumaruna angrawung; Mangimur manuhara; Met pamrih melik pakolih; Temah suhha ing karsa tanpa wiweka
Makna dari bait ke tiga kurang lebih sebagai berikut: Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan (baris 1 sd 4). Karena perbuatan seseorang yang seolah memberi harapan (baris 5-7). Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu (met pamrih melik pakolih, baris 8). Karena terlalu gembira sang Pujangga kehilangan kewaspadaan (baris 9)
Pada bait ke tiga ini Ranggawarsita mulai kecewa dan menyesal. Kegembiraannya menghilangkan kewaspadaan. Ia lena dengan mulut manis seolah memberi harapan dan ia sendiri memang ingin mendapatkan sesuatu. Akhirnya menjadi sedih karena dipermalukan. Disini ada kesadaran dalam kekecewaan, bahwa “melik nggendong lali” yang tergambar dalam “met pamrih pakolih, temah suh-ha ing karsa tanpa weweka”.

BAIT KE EMPAT: PENGAKUAN KALAU LUPA
Dasar karoban pawarta; Bebaratun ujar lamis; Pinudya dadya pangarsa; Wekasan malah kawuri; Yan pinikir sayekti; Mundhak apa aneng ngayun; Andhedher kaluputan; Siniraman banyu lali; Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
Makna dari bait ke empat kurang lebih sebagai berikut: Karena terlalu banyak kabar angin yang beredar (dasar karoban pawarta; bebaratun ujar lamis). Akan diposisikan sebagai pimpinan tetapi akhirnya malah di taruh di belakang dan dilupakan (baris 3 dan 4). (sebenarnya) kalau direnungkan, apa manfaatnya menjadi pimpinan (kalau) hanya menebar benih kesalahan, (lebih-lebih) bila disiram air “lupa” hasilnya hanyalah berbunga kesusahan (baris 5 sd 9)
Pada bait ke empat ini Ranggawarsita mengungkapka bahwa ia terlalu GR dengan kabar angin bahwa ia akan dijadikan “pangarsa”, pimpinan. Ketika kemudian harapannya ternyata hilang (Pinudya dadi pangarsa; wekasan malah kawuri) , ia mencoba menghibur diri dengan mengungkapkan: Untuk apa jadi pemimpin kalau hanya menanam kesalahan yang disiram dengan air lupa. Bunga yang dipetik hanyalah “masalah”.

BAIT KE LIMA: LEBIH BAIK MENULIS BUKU
Ujaring panitisastra; Awewarah asung peling; Ing jaman keneng musibat; Wong ambeg jatmika kontit; Mengkono yen niteni; Pedah apa amituhu; Pawarta lolawara; Mundhuk angreranta ati; Angurbaya angiket cariteng kuna
Makna dari bait ke lima kurang lebih sebagai berikut: Menurut para ahli sastra, sebenarnya sudah ada peringatan bahwa di jaman yang penuh musibah ini orang yang berbudi akan ditinggalkan (baris 1 sd 4). Demikian pula kalau kita perhatikan, apa manfaatnya percaya pada desas-desus. Lebih baik menulis kisah-kisah lama (baris 5 sd 9)
Pada bait ke lima ini R Ngabehi Ranggawarsita mencoba mencari makna lain dari kehidupan dengan lebih banyak menulis cerita: “angurbaya angiket  cariteng kuna”. Sebuah pelarian, mungkin. Tetapi sekarang pun terjadi seperti itu, menulis buku.

BAIT KE ENAM: TAKDIR
Keni kinarta darsana; Panglimbang ala lan becik; Sayekti akeh kewala; Lelakon kang dadi tamsil; Masalahing ngaurip; Wahaninira tinemu; Temahan anarima; Mupus pepesthening takdir; Puluh-puluh anglakoni kaelokan
Makna dari bait ke enam kurang lebih sebagai berikut: Kisah ini dapatnya dijadikan cermin dalam menimbang hal-hal yang baik dan yang buruk. Sebenarnya banyak kisah lama yang dapat dijadikan contoh, mengenai masalah-masalah dalam kehidupan (baris 1 sd 5). Setelah ketemu akhirnya bisa “nrima” dan berserah diri pada kehendak takdir atas hal-hal elok yang terjadi (baris 6 sd 9)
Pada bait ke enam ini, Karena tidak menemukan sebab-sebab yang pasti (diungkapkan sebagai “kaelokan”) akhirnya  R. Ngabehi Ranggawarsita mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut memang sudah takdir Tuhan. Dengan demikian selesailah bagian pertama dari Serat kalatidha dimana beliau menyerahkan kepada kebijaksanaan Tuhan dengan “mupus pepestening takdir”.

BAIT KE TUJUH: JAMAN EDAN
Bait ke tuju inilah bagian ke dua dari Serat Kalatidha. Bait yang paling populer, cukup banyak yang hapal lengkap satu “pada” (bait) atau hanya hapal dua baris terakhir: “begja-begjane kang lali; luwih beja kang eling lawan waspada”. Orang sekarang yang tidak tahu bait ke satu sampai dengan enam bisa menganggap sebagai ramalan. Sekali lagi ini bukan ramalan, ini kritik jaman pada abad ke 19 yang ternyata masih dipakai pada abad ke 21. Bukan prediksi untuk abad ke 21.
Bait ke 7 selengkapnya adalah sebagai berikut:
Amenangi jaman edan; Ewuh aya ing pambudi; Milu edan nora tahan; Yen tan milu anglakoni; Boya kaduman melik; Kaliren wekasanipun; Ndilalah karsa Allah; Begja-begjane kang lali; Luwih begja kang eling lawan waspada
Makna dari bait ke tujuh adalah sebagai berikut: Mengalami hidup pada jaman edan; memang serba repot; Mau ikut ngedan hati tidak sampai; Kalau tidak mengikuti; Tidak kebagian apa-apa; akhirnya malah kelaparan; namun sudah menjadi kehendak Allah; Bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”; Masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”
Pada bait ke tujuh ini, ki Pujangga mengungkap dilema kehidupan pada jaman edan. Dilema pada orang yang ragu-ragu tentunya. Mau ikut gila hati masih belum sampai, tetapi kalau tidak ikut ngedan bisa kelaparan. Dan lagi-lagi kehebatan Ranggawarsita, beliau tidak sekedar memasalahkan masalah, namun memberi peringatan sekaligus solusi: “Eling” lan “Waspada”. “Eling” berarti ingat pada Tuhan. Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan adalah Maha Mengawasi. Disamping “Eling” juga “Waspada” kepada manusia lainnya karena diantara manusia ada yang mempunyai kelakuan suka menjerumuskan orang lain.
Dalam bahasa “Management Strategis” saya menganggap “Eling dan waspada” adalah “Critical Success Factor” yang harus dijabarkan dalam Visi, Misi, Strategi dan Langkah-langkah bila kita tidak ingin terbelenggu dan ragu dalam jaman edan. Demikianlah bait ke tujuh sekaligus bagian ke dua dari Serat Kalatidha: “Eling lan waspada”

BAIT KE DELAPAN: MERASA TUA
Semono iku bebasan; Padu-padune kepengin; Enggih mekoten man Doblang; Bener ingkang angarani; Nanging sajroning batin; Sejatine nyamut-nyamut; Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi; Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
Makna dari bait ke delapan adalah sebagai berikut: Hal itu sebenarnya karena ada keinginan. Begitu kan paman Doblang? (baris ke 1 sd 3). Kalau ada yang mengatakan begitu, memang benar. Tetapi dalam hati memang susah juga. Sekarang sudah tua, mau mencari apa lagi. Lebih baik menyepi agar mendapat ampunan Tuhan (baris 4 sd 9).
Pada bait ke delapan ini R. Ngabehi Ranggawarsita mulai merasa tua, mulai memikirkan kematian. Merasa banyak dosa ditambah menyadari kematian maka ki Pujangga berupaya mencari pengampunan dosanya. “Menyepi” adalah ungkapan Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Jangan dibayangkan sebagai semacam menjauhkan diri dari kehidupan dengan  bertapa di goa-goa. Inilah “wis tuwa arep apa, muhung mahas ing asepi, supayantuk parimarmaning Hyang Suksma”.

BAIT KE SEMBILAN: ALLAH MEMBERI PERTOLONGAN, MANUSIA IKHTIAR
Beda lan kang wus santosa; Kinarilah ing Hyang Widhi; Satiba malanganeya; Tan susah ngupaya kasil; Saking mangunah prapti; Pangeran paring pitulung; Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih; Parandene maksih taberi ikhtiyar
Makna dari bait ke sembilan adalah: Lain dengan yang sudah sentausa. Mendapatkan rahmat Allah. Nasibnya selalu baik. Tidak sulit upayanya. Selalu memperoleh hasil. Tuhan selalu memberi pertolongan. Memberi jalan semua ummatnya. Sehingga memperoleh semuanya. Tetapi manusia tetaplah berikhtiar.
Pada bait ke sembilan ini Ranggawarsita menekankan pentingnya ikhtiar. Beliau memberi contoh orang-orang yang berhasil karena dirahmati Allah.

BAIT KE SEPULUH: IKHTIAR DAN RAHMAT ALLAH
Sakadare linakonan; Mung tumindak mara ati; Angger tan dadi prakara; Karana riwayat muni; Ikhtiyar iku yekti; Pamilihing reh rahayu; Sinambi budidaya; Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
Makna dari bait ke sepuluh adalah: Kita laksanakan, apapun, sekedarnya. Perbuatan yang menyenangkan dan tidak menimbulkan masalah. Karena sudah dikatakan, manusia wajib ikhtiar. Melalui jalan yang benar. Sembari berikhtiar tersebut, manusia harus terap awas dan ingat supaya mendapatkan rahmat Tuhan.
Pada bait ke sepuluh: “ikhtiar iku yekti, pamilihing reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka marmaning Suksma. Kembali kata ikhtiar dan “Eling” diulang dalam upaya kita mendapatkan rahmat Allah. Ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar di jalan yang benar. Bait ke sepuluh adalah penekanan bait ke sembilan.

BAIT KE SEBELAS: SEMAKIN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Ya Allah ya Rasulullah; Kang sipat murah lan asih; Mugi-mugi aparinga; Pitulung ingkang martani; Ing alam awal akhir; Dumununging gesang ulun; Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi; Mula mugi wontena pitulung Tuwan
Makna dari bait ke sebelas adalah: Ya Allah, ya Rasulullah yang bersifat pemurah dan pengasih. Kiranya berkenan memberi pertolongan dalam alam awal dan akhir dalam kehidupan saya (baris 1 sd 6). Sekarang hamba sudah tua. Akhir nanti seperti apa, kiranya mendapatkan pertolongan Allah (baris 7 sd 9)
Pada bait ke sebelas ini Ranggawarsita merasa waktunya untuk “pulang” menghadap Sang Maha Pencipta sudah semakin dekat. Ia harus semakin mendekatkan diri. Hanya Allah yang akan menyelamatkannya di kehidupan akhirat nanti.

BAIT KE DUABELAS: MOHON AMPUNAN ALLAH
Sageda sabar santosa; Mati sajroning ngaurip; Kalis ing reh aruraha; Murka angkara sumingkir; Tarlen meleng malat sih; Sanistyaseng tyas mematuh; Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis; BoRONG angGA saWARga meSI marTAya
Makna dari bait ke duabelas adalah: kiranya saya mampu sabar dan sentausa. Mati dalam hidup. Terbebas dari semua kerepotan. Angkara murka menyingkir (baris 1 sd 4). Saya hanya memohon karunia kepadaMu, guna mendapat ampunan, diberi sekedar keringanan. Hamba serahkan jiwa dan raga hamba (baris 5 sd 9)..
Pada bait ke duabelas ini Ranggawarsita sampai pada puncak pendekatannya kepada Tuhan yang diungkapkan dalam “mati sajroning urip”. Mati dalam hidup bukanlah orang yang sudah lepas sama sekali dari dunia padahal kakinya masih menginjak bumi, bukan pula pelarian karena pelarian tidak akan memberikan apa-apa. Sekali lagi, “mati sajroning urip bukanlah pengasingan diri orang yang lari” .
Demikianlah bait ke delapan sd duabelas yang merupakan bagian ketiga dan terakhir Serat Kalatidha yang intinya “Kembali kepada Allah” melalui “mati sajroning urip

PENUTUP
R Ngabehi Ranggawarsita melalui kekecewaan dan pengalaman hidupnya dalam sebuah karya yang sampai sekarang tetap kesohor “Serat Kalatidha” yang bertujuan memberi peringatan kepada kita agar senantiasa “Eling” kepada Allah dan “Waspada” kepada manusia dan kehidupan manusia. Beliau tidak pernah menganjurkan orang jadi pemberontak, melainkan manusia hendaknya percaya kepada “Takdir”. Takdir yang dilandasi dengan “Ikhtiar” di jalan yang benar. Setelah ikhtiar maka semuanya dikembalikan ke Takdir.
R Ngabehi Ranggawarsita menyadari kehendak Allah yang kadang sulit diterima akal manusia. Namun beliau yakit bahwa Allah akan menolong orang-orang yang “eling lawan waspada”. Orang yang “eling dan waspada” tidak akan terombang-ambing dalam riak gelombang “Kalatidha”. Tidak akan frustasi, neurosis atau bahkan menjadi schizophereni.
Sebagai karya seni yang menulis tentang manusia dan kehidupannya ternyata karya ini tidak lapuk oleh jaman. Baris terakhir bait terakhir Serat Kalatidha yang terjemahan bebasnya adalah “Hamba serahkan jiwa dan raga (kepada Allah) ditulis dalam sebuah “sandhiasma” yang menunjukkan nama penulisnya: BoRONG angGA saWARga meSI marTAya (IwM).