oleh : CN
Janganku suaraku, ya ‘Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu
Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999
Rabu, 05 April 2017
BEGITU ENGKAU BERSUJUD

Oleh :
Emha Ainun Najib
Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki
alam makrifat
Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
adzan
Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid
1987
Mengingat Si Burung Merak, WS Rendra
Hidup itu seperti uap, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap
Ketika orang memuji milikku
Aku berkata bahwa ini hanya titipan saja
Bahwa mobilku adalah titipan-Nya
Bahwa rumahku adalah titipan-Nya
Bahwa hartaku adalah titipan-Nya
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-Nya
Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?
Untuk Apa menitipkan semuanya kepadaku?
Dan kalau bukan milikku
Apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-Nya ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Malahan ketika diminta kembali
kusebut itu musibah
kusebut itu ujian
kusebut itu petaka
kusebut itu apa saja
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah derita
Ketika aku berdo’a
kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan duniawi
Aku ingin lebih banyak harta
Aku ingin lebih banyak mobil
Aku ingin lebih banyak rumah
Aku ingin lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
Seolah semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku
Betapa curangnya aku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagangku
dan bukan sebagai Kekasih!
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku
Duh Allah ...
Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku, hanyalah untuk-Mu
Ya Allah, Ampuni aku ya Allah
Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendak-Mu saja ya Allah
Sebab aku yakin
Engkau akan memberikan anugerah dalam hidupku
Kehendak-Mu adalah yang terbaik bagiku
Ketika aku ingin hidup kaya
aku lupa
bahwa hidup itu sendiri
adalah sebuah kekayaan
Ketika aku berat untuk memberi
aku lupa,
bahwa semua yang aku miliki
juga adalah pemberian
Ketika aku ingin jadi yang terkuat
aku lupa,
bahwa dalam kelemahan
Tuhan memberikan aku kekuatan
Ketika aku takut Rugi
Aku lupa,
bahwa hidupku adalah
sebuah keberuntungan
kerana Anugerah-Nya
Ternyata hidup ini sangat indah,
ketika kita selalu bersyukur kepada-Nya
Bukan karena hari ini indah
kita bahagia
Tetapi karena kita bahagia
maka hari ini menjadi indah
Bukan karena tak ada rintangan kita menjadi optimis
Tetapi karena kita optimis, rintangan akan menjadi tak terasa.
Bukan karena mudah kita yakin bisa
Tetapi karena kita yakin bisa
semuanya menjadi mudah
Bukan karena semua baik kita tersenyum
Tetapi karena kita tersenyum, maka semua menjadi baik
Tak ada hari yang menyulitkan kita
Kecuali kita sendiri yang membuat sulit
Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar
Cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang
Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
Cukuplah menjadi lentera yang dapat menerangi sekitar kita
Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka berdoalah untuk kebaikan
Jumat, 24 Maret 2017
Tugas Jibril Setelah Rasulullah SAW Wafat
Inilah tugas malaikat jibril sepeninggal Rasullah SAW :
1. Mengangkat Keberkahan di muka bumi
Banya orang yang tidak percaya akan adanya keberkahan. Mereka lebih percaya pada bertambahnya kekyaan. Menanam apa saja hampir saja kita kekurangan, pekerjaan harus ndobel-ndobel, itupun masih terasa berat untuk mencukupi kebutuhan. Berkah banyak yang mengartikan sebagai berlipat-lipatnya harta. Berkah itu berlipatnya kebaikan, sekali lagi bukan ukuran harta, tetapi ukuran ukhrowi. Banyak ibadah yang kita harapkan menjadi uang. Kita menanam kita harapkan menjadi uang. Segala sepak terjang kita harapkan menjadi uang. Supaya berkah katanya. Keberkahan bisa berarti kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, nikmat dalam beribadah meski boleh saja kita kaya.
Bumi semakin penuh bahan kimia. Bumi semakin panas, Bumi semakin menumpuk sampah anorganik. penyakit baru bermunculan. Pepohonan semakin langka. Teknologi seolah-olah semakin maju. namun kebutuhan semakin tak terpenuhi karena hasrat manusia yang tanpa batas dan tanpa kendali. Agama hanya sebagai bahan perdebatan dan dialog. Kemaksiatan menjadi hal yang biasa. Keberkahan bumi benar-benar dicabut. Untuk melakukan kebaikan terasa sangat berat apalai melakukannya dengan berjamaah.
2. Mengangkat cinta dari hati, cinta pada kekasih sejati
Cinta sesungguhnya adalah cinta-Nya kepada kita. Demikian pula seharusnya kita membalas cinta-Nya dengan cinta sekemampuan kita. Berbuat baiklah seperti Dia berbuat baik kepada-Mu. Hanya dengan jalan cinta kita akan sampai kepada Pemilik Cinta.
3. Mengangkat rasa kasih sayang dari sesama mukmin dan kerabat.
1. Mengangkat Keberkahan di muka bumi
Banya orang yang tidak percaya akan adanya keberkahan. Mereka lebih percaya pada bertambahnya kekyaan. Menanam apa saja hampir saja kita kekurangan, pekerjaan harus ndobel-ndobel, itupun masih terasa berat untuk mencukupi kebutuhan. Berkah banyak yang mengartikan sebagai berlipat-lipatnya harta. Berkah itu berlipatnya kebaikan, sekali lagi bukan ukuran harta, tetapi ukuran ukhrowi. Banyak ibadah yang kita harapkan menjadi uang. Kita menanam kita harapkan menjadi uang. Segala sepak terjang kita harapkan menjadi uang. Supaya berkah katanya. Keberkahan bisa berarti kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, nikmat dalam beribadah meski boleh saja kita kaya.
Bumi semakin penuh bahan kimia. Bumi semakin panas, Bumi semakin menumpuk sampah anorganik. penyakit baru bermunculan. Pepohonan semakin langka. Teknologi seolah-olah semakin maju. namun kebutuhan semakin tak terpenuhi karena hasrat manusia yang tanpa batas dan tanpa kendali. Agama hanya sebagai bahan perdebatan dan dialog. Kemaksiatan menjadi hal yang biasa. Keberkahan bumi benar-benar dicabut. Untuk melakukan kebaikan terasa sangat berat apalai melakukannya dengan berjamaah.
2. Mengangkat cinta dari hati, cinta pada kekasih sejati
Cinta sesungguhnya adalah cinta-Nya kepada kita. Demikian pula seharusnya kita membalas cinta-Nya dengan cinta sekemampuan kita. Berbuat baiklah seperti Dia berbuat baik kepada-Mu. Hanya dengan jalan cinta kita akan sampai kepada Pemilik Cinta.
3. Mengangkat rasa kasih sayang dari sesama mukmin dan kerabat.
Mengangkat rasa kaasih sayang dari para kerabat,
Mengangkat sifat rasa adil dari pemerintah,
Mengangkat sifat pemalu dari para perempuan,
Mengangkat sifat sabar dari fakir miskin,
Mengangkat sifat pemurah dari orang orang kaya,
Mengangkat sifat Wara’ ulama sehingga ia menjual agamanya sendiri untuk kepentingan pribadinya sendiri,
Mengangkat Al-Qur’an (tidak ada lagi yang bisa membaca Al-Quran),
Diangkatnya Iman dari seluruh bumi, dan ini yang akan menyegerakan kiamat.
Akhlaq : Sifat Sifat manusia Yang Bergelar Ibadurrahman
Tafsir Al Furqan Ayat
63-77
Ayat 63-77: Seorang muslim hendaknya menyifati dirinya
dengan sifat hamba-hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan dengan beribadah
kepada-Nya dan agar ia mendapatkan pahala yang besar di akhirat.
وَعِبَادُ
الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا
وَقِيَامًا (٦٤) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ
عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥) إِنَّهَا
سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٦٦) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ
يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧) وَالَّذِينَ لا
يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ
اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
(٦٨) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
(٦٩) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ
اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠) وَمَنْ تَابَ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (٧١) وَالَّذِينَ لا
يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
(٧٢) وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا
صُمًّا وَعُمْيَانًا (٧٣) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا (٧٤) أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا
تَحِيَّةً وَسَلامًا (٧٥) خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٧٦) قُلْ
مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ
لِزَامًا (٧٧
Terjemah Surat Al Furqan Ayat 63-77
63. [1]Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha
Pengasih[2] itu adalah orang-orang yang berjalan
di bumi dengan rendah hati[3] dan apabila orang-orang bodoh menyapa
mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam[4],”
64. dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam
untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri[5].
65. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami,
jauhkanlah azab Jahanam dari kami[6], karena sesungguhnya azabnya itu
membuat kebinasaan yang kekal,”
66. sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap
dan tempat kediaman[7].
67. Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha
Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta)[8], mereka tidak berlebihan[9], dan tidak (pula) kikir[10], di antara keduanya secara wajar[11],
68. [12]dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan Allah dengan sembahan lain[13] dan tidak membunuh orang yang
diharamkan Allah[14] kecuali dengan (alasan) yang benar[15], dan tidak berzina[16]; dan barang siapa melakukan
demikian itu[17], niscaya dia mendapat hukuman yang
berat,
69. (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada
hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina[18],
70. [19]kecuali orang-orang yang bertobat[20] dan beriman[21] dan mengerjakan amal saleh[22], maka kejahatan mereka diganti
Allah dengan kebaikan[23]. Allah Maha Pengampun[24] lagi Maha Penyayang[25].
71. Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan amal
saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang
sebenar-benarnya[26].
72. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian
palsu[27], dan apabila mereka bertemu[28] dengan (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah[29], mereka berlalu dengan menjaga
kehormatan dirinya[30],
73. dan orang-orang yang apabila diberi peringatan
dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang
tuli dan buta[31],
74. dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami pasangan kami[32] dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami)[33], dan jadikanlah kami pemimpin[34] bagi orang-orang yang bertakwa[35].”
75. Mereka itu akan diberi balasan yang tinggi (dalam
surga)[36] atas kesabaran mereka[37], dan di sana mereka akan disambut
dengan penghormatan dan salam[38],
76. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik
tempat menetap dan tempat kediaman.
77. [39]Katakanlah (Muhammad, kepada
orang-orang musyrik), "Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak
karena doamu[40]. (Tetapi bagaimana Dia mengindahkan
kamu), padahal sungguh, kamu telah mendustakan (Rasul dan Al Qur’an)? Karena
itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)[41].”
[1] Selanjutnya Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan banyaknya kebaikan-Nya, nikmat-Nya kepada
hamba-hamba-Nya serta taufiq-Nya kepada mereka untuk beramal saleh sehingga
mereka berusaha mencapai tempat-tempat tinggi di kamar-kamar surga.
[2] Ubudiyyah
(penghambaan) terbagi menjadi dua:
- Ubudiyyah kepada rububiyyah Allah, maka dalam hal
ini semua manusia ikut di dalamnya, baik yang muslim maupun yang kafir, yang
baik maupun yang jahat, semuanya adalah hamba Allah yang diatur-Nya. Allah
Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada seorang pun di langit dan di
bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”
(Terj. Maryam: 93)
- Ubudiyyah kepada uluhiyyah Allah, yaitu ibadah yang
dilakukan para nabi dan para wali-Nya, dan penghambaan kepada uluhiyyah inilah
yang dimaksud dalam ayat di atas. Oleh karena itulah, Allah hubungkan kata
‘ibaad” (hamba-hamba) kepada Ar Rahman sebagai isyarat bagi mereka, bahwa
mereka memperoleh keadaan ini disebabkan rahmat-Nya.
Dalam ayat ini dan selanjutnya, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menyebutkan sifat-sifat mereka yang merupakan sifat yang sangat utama.
[3] Dia bertawadhu’
(berendah diri) kepada Allah dan berendah hati kepada makhluk-Nya. Ayat ini
menerangkan sifat mereka, yaitu sopan, tenang, dan bertawadhu’.
[4] Yakni ucapan yang
bersih dari dosa. Mereka memaafkan orang yang bodoh dan tidak mengucapkan
kecuali yang baik. Mereka santun dan tidak membalas keburukan dengan keburukan,
tetapi membalasnya dengan kebaikan.
[5] Maksudnya
orang-orang yang shalat tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah.
[6] Yakni hindarkanlah
dari kami; jagalah kami dari sebab-sebab yang memasukkan kami ke dalamnya, dan
ampunilah perbuatan kami yang mendatangkan azab.
[7] Ucapan ini mereka
ucapkan karena tadharru’ (merendahkan diri) kepada Tuhan mereka, menjelaskan
butuhnya mereka kepada Allah, dan bahwa mereka tidak sanggup memikul azab Allah
serta agar mereka dapat mengingat nikmat-Nya.
[8] Baik nafkah wajib
maupun sunat.
[9] Sampai melewati
batas sehingga jatuh ke dalam pemborosan dan meremehkan hak yang wajib.
[10]
Sehingga jatih ke dalam kebakhilan dan kekikiran.
[11]
Mereka mengeluarkan dalam hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat dan nafkah
yang wajib dan dalam hal yang patut dikeluarkan namun tidak sampai menimbulkan
madharrat baik bagi diri maupun orang lain. Ayat ini terdapat dalil yang
memerintahkan untuk hidup hemat.
[12]
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Mas’ud ia
berkata, “Aku bertanya - atau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya-
, “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Yaitu kamu
adakan tandingan bagi Allah, padahal Dia menciptakanmu.” Aku bertanya,
“Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut jika ia
makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau
menzinahi istri tetanggamu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Lalu turun ayat ini
membenarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “dan orang-orang
yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang
yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;”
Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya yang
sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa orang-orang yang
sebelumnya musyrik pernah melakukan banyak pembunuhan dan melakukan banyak
perzinaan, lalu mereka mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
dan berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau ucapkan dan engkau serukan sungguh
bagus. Sudikah kiranya engkau memberitahukan kepada kami penebus amal kami?”
Maka turunlah ayat, “dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan
sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan
(alasan) yang benar, dan tidak berzina;” dan turun pula ayat, “Katakanlah,
"Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Terj. Az Zumar: 53)
Syaikh Muqbil berkata, “Tidak menutup kemungkinan ayat
tersebut turun berkenaan dua sebab tersebut secara bersamaan.”
[13] Bahkan
hanya beribadah kepada-Nya dengan ikhlas.
[14]
Yaitu jiwa seorang muslim dan orang kafir yang mengikat perjanjian.
[15]
Seperti membunuh seorang karena membunuh orang lain, membunuh pezina yang
muhshan dan membunuh orang kafir yang halal dibunuh (seperti kafir harbi).
[16]
Mereka menjaga kemaluan mereka kecuali kepada istri-istri mereka dan hamba
sahaya mereka.
[17]
Yakni salah satu di antara ketiga perbuatan buruk itu.
[18]
Ancaman kekal di neraka tertuju kepada mereka yang melakukan ketiga perbuatan
itu (syirk, membunuh dan berzina) atau orang yang melakukan perbuatan syirk.
Demikian pula azab yang pedih tertuju kepada orang yang melakukan salah satu
dari perbuatan itu karena keadaannya yang berupa syirk atau termasuk dosa besar
yang paling besar. Adapun pembunuh dan pezina, maka ia tidak kekal di neraka,
karena telah ada dalil-dalil baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang
menunjukkan bahwa semua kaum mukmin akan dikeluarkan dari neraka dan orang
mukmin tidak kekal di neraka meskipun melakukan dosa besar. Ketiga dosa yang
disebutkan dalam ayat di atas adalah dosa besar yang paling besar, karena dalam
syirk merusak agama, membunuh merusak badan dan zina merusak kehormatan.
[19]
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Sa’id bin Jubair,
ia berkata, “Abdurrahman bin Abzaa memerintahkan aku dengan mengatakan,
“Bertanyalah kepada Ibnu Abbas tentang kedua ayat ini, apa perkara kedua (orang
yang disebut dalam ayat tersebut)?” Yaitu ayat, “Dan janganlah kamu membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang
benar…dst.” (Terj. Al Israa’: 33) dan ayat, “Dan barang siapa yang
membunuh seorang mukmin dengan sengaja ...dst.” (Terj. An Nisaa’: 93) Maka
aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ia menjawab, “Ketika turun ayat yang ada dalam
surah Al Furqan, orang-orang musyrik Mekah berkata, “Kami telah membunuh jiwa
yang diharamkan Allah dan kami telah menyembah selain Allah serta mengerjakan
perbuatan-perbuatan keji.” Maka Allah menurunkan ayat, “kecuali orang-orang
yang bertobat…dst.” Adapun yang disebutkan dalam surah An Nisaa’ itu adalah
seorang yang sudah mengenal Islam dan syariatnya, lalu ia melakukan pembunuhan,
maka balasannya adalah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya.” Kemudian aku
menyebutkanya kepada Mujahid, ia berkata, “Kecuali orang yang menyesali
(perbuatannya).”
[20]
Dari dosa-dosa tersebut dan lainnya, yaitu dengan berhenti melakukannya pada
saat itu juga, menyesali perbuatan itu dan berniat keras untuk tidak mengulangi
lagi.
[21]
Kepada Allah dengan iman yang sahih yang menghendaki untuk meninggalkan maksiat
dan mengerjakan ketaatan.
[22]
Yakni amal yang diperintahkan syari’ (Allah dan Rasul-Nya) dengan ikhlas karena
Allah.
[23]
Dalam hal ini ada dua pendapat: Pendapat pertama, perbuatan mereka yang
buruk diganti dengan perbuatan yang baik. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma
berkata, “Mereka adalah kaum mukmin, di mana sebelum beriman, mereka berada di
atas kejahatan, lalu Allah menjadikan mereka benci kepada kejahatan, maka Allah
alihkan mereka kepada kebaikan, sehingga Allah merubah kejahatan mereka dengan
kebaikan. Sa’id bin Jubair berkata, “Allah merubah penyembahan mereka kepada
berhala menjadi menyembah kepada Ar Rahman, yang sebelumnya memerangi kaum
muslimin menjadi memerangi orang-orang musyrik dan Allah merubah mereka yang
sebelumnya menikahi wanita musyrikah menjadi menikahi wanita mukminah.” Al
Hasan Al Basri berkata, “Allah merubah mereka yang sebelumnya amal buruk
menjadi amal saleh, yang sebelumnya syirk menjadi ikhlas dan yang sebelumnya
berbuat zina menjadi menikah, dan yang sebelumnya kafir menjadi muslim.” Pendapat
kedua, keburukan yang telah berlalu itu berubah karena tobat nashuha,
kembali kepada Allah dan ketaatan menjadi kebaikan.
[24]
Bagi orang yang bertobat.
[25]
Kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia mengajak mereka bertobat setelah mereka
menghadapkan kepada-Nya dosa-dosa besar, lalu Dia memberi mereka taufik untuk
bertobat dan menerima tobat itu.
[26]
Hendaknya dia mengetahui, bahwa tobatnya telah sempurna, karena ia telah
kembali ke jalan yang menghubungkan kepada Allah, di mana jalan itu merupakan
jalan kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itu, hendaknya ia ikhlas dalam
tobat dan membersihkannya dari campuran maksud yang tidak baik. Kesimpulan ayat
ini adalah dorongan untuk menyempurnakan tobat, melakukannya dengan cara yang
paling utama dan agung agar Allah menyempurnakan pahalanya sesuai tingkat
kesempurnaan tobatnya.
[27]
Ada pula yang menafsirkan dengan tidak menghadiri Az Zuur, yakni ucapan dan
perbuatan yang haram. Oleh karena itu, mereka menjauhi semua majlis yang di
dalamnya penuh dengan ucapan dan perbuatan yang haram, seperti mengolok-olok
ayat-ayat Allah, perdebatan yang batil, ghibah (gosip), namimah (mengadu
domba), mencaci-maki, qadzaf (menuduh zina), nyanyian yang haram, meminum khamr
(arak), menghamparkan sutera, memajang gambar-gambar, dsb. Jika mereka tidak
menghadiri Az Zuur, maka tentu mereka tidak mengucapkan dan melakukannya.Termasuk
ucapan Az Zuur adalah persaksian palsu.
[28]
Yakni tanpa ada maksud untuk menemuinya, akan tetapi bertemu secara tiba-tiba.
[29]
Yakni tidak ada kebaikan atau faedahnya baik bagi agama maupun dunia seperti
obrolan orang-orang bodoh.
[30]
Mereka bersihkan diri mereka dari ikut masuk ke dalamnya meskipun tidak ada
dosa di sana, namun hal itu mengurangi kehormatannya.
[31]
Mereka tidak menghadapinya dengan berpaling; tuli dari mendengarnya serta
memalingkan pandangan dan perhatian darinya sebagaimana yang dilakukan orang
yang tidak beriman dan tidak membenarkan, akan tetapi keadaan mereka ketika
mendengarnya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang
yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan
memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.”(Terj. As Sajdah:
15) Mereka menghadapinya dengan sikap menerima, butuh dan tunduk. Telinga
mereka mendengarkan dan hati mereka siap menampung sehingga bertambahlah
keimanan mereka dan semakin sempurna keimanannya serta timbul rasa semangat dan
senang.
[32]
Termasuk pula kawan-kawan kami.
[33] Yakni
dengan melihat mereka taat kepada-Mu.
Apabila kita memperhatikan keadaan dan sifat-sifat
mereka (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih), maka dapat kita ketahui, bahwa
hati mereka tidak senang kecuali ketika melihat pasangan dan anak-anak mereka
taat kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Doa mereka agar pasangan dan anak-anak
mereka menjadi saleh sesungguhnya mendoakan untuk kebaikan mereka, karena
manfaatnya kembalinya kepada mereka, bahkan kembalinya untuk manfaat kaum
muslimin secara umum, karena dengan salehnya orang-orang yang disebutkan maka
akan menjadi sebab salehnya orang yang bergaul dengan mereka dan dapat
memperoleh manfaat darinya.
[34]
Yakni pemimpin dalam kebaikan.
[35]
Maksudnya, sampaikanlah kami ke derajat yang tinggi ini; derajat para shiddiqin
dan insan kamil dari kalangan hamba Allah yang saleh, yaitu derajat imam
(pemimpin) dalam agama dan menjadi panutan bagi orang-orang yang bertakwa, baik
dalam perkataan maupun perbuatan mereka, di mana orang-orang yang baik berjalan
di belakang mereka. Mereka memberi petunjuk lagi mendapat petunjuk. Sudah
menjadi maklum, bahwa berdoa agar mencapai sesuatu berarti berdoa meminta agar
diadakan sesuatu yang dapat meyempurnakannya, dan derajat imamah fiddin
tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan yakin sebagaimana disebutkan dalam
surah As Sajdah: 24. Doa agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa
adalah doa yang menghendaki amal, bersabar di atas perintah Allah, bersabar
menjauhi larangan Allah dan bersabar terhadap taqdir-Nya yang pedih. Demikian
juga dibutuhkan ilmu yang sempurna yang dapat menyampaikan seseorang kepada
derajat yakin. Dengan sabar dan yakin itulah mereka dapat berada pada derajat
yang sangat tinggi setelah para nabi dan rasul. Oleh karena cita-cita mereka
begitu tinggi dan tidak sekedar cita-cita, bahkan mereka melakukan
sebab-sebabnya sambil berdoa kepada Allah, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala
membalas mereka dengan kedudukan yang tinggi (ghurfah) di akhirat.
[36]
Yakni kedudukan yang tinggi dan tempat-tempat yang indah; yang menghimpun semua
yang disenangi dan sejuk dipandang oleh mata.
[37] Di
atas ketaatan kepada Allah.
[38]
Dari Tuhan mereka, dari para malaikat dan dari sesama mereka. Dalam ayat lain,
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “(Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk
ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya
dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari
semua pintu;---(sambil mengucapkan), "Salamun 'alaikum bima
shabartum" (salam atasmu karena kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (Terj. Ar Ra’d: 23-24)
Wal hasil, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menyifati mereka dengan sikap sopan, tenang, tawadhu’ kepada Allah dan
kepada hamba-hamba-Nya, adabnya baik, santun (tidak lekas marah), berakhlak
mulia, memaafkan orang-orang yang jahil (bodoh), dan berpaling dari mereka,
membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, melakukan qiyamullail,
ikhlas dalam melakukannya, takut kepada neraka, bertadharru’ (merendahkan diri
sambil berdoa) kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka darinya, mengeluarkan
nafkah yang wajib dan yang sunat, berhemat dalam hal tersebut, selamat dari
dosa-dosa besar, ikhlas dalam beribadah, tidak menzalimi darah dan kehormatan
orang lain, segera bertobat jika terjadi sikap itu, tidak menghadiri majlis
yang munkar dan kefasikan apalagi sampai melakukan, menjauhkan dirinya dari hal
yang tidak berguna yang menunjukkan muru’ah (kesopanan) dan sempurnanya pribadi
mereka, diri mereka jauh dari ucapan dan perbuatan yang hina, menyikapi
ayat-ayat Allah dengan tunduk dan menerima, memahami maknanya dan mengamalkan
serta berusaha mewujudkan hukum-hukumnya dan bahwa mereka berdoa dengan doa
yang yang paling sempurna, di mana mereka mendapatkan manfaat darinya, demikian
pula orang yang bersama mereka, dan kaum muslimin pun mendapatkan manfaat darinya,
yaitu doa untuk kesalehan istri dan keturunan mereka, di mana termasuk ke
dalamnya adalah berusaha mengajarkan agama kepada mereka dan menasehati mereka,
karena orang yang berusaha terhadap sesuatu dan berdoa kepada Allah tentu
mengerjakan sebab-sebabnya, dan bahwa mereka berdoa kepada Allah agar mencapai
derajat yang tinggi yang mereka mampu, yaitu derajat imamah fiddin (pemimpin
dalam agama atau shiddiiqiyyah). Allah mempunyai nikmat yang besar kepada
hamba-hamba-Nya, Dia menerangkan sifat-sifat mereka, perbuatan mereka dan
cita-cita mereka serta menerangkan pahala yang akan diberikan-Nya kepada mereka
agar hamba-hamba-Nya ingin memiliki sifat tersebut, mengerahkan kemampuannya
untuk itu, dan agar mereka meminta kepada Allah yang mengaruniakan nikmat
tersebut, di mana karunia-Nya ada di setiap waktu dan tempat, Dia menunjuki
mereka sebagaimana Dia telah memberi hidayah, serta mendidiknya dengan
pendidikan khusus sebagaimana Dia telah mengurus mereka.
Ya Allah, untuk-Mulah segala puji, kepada-Mu kami
mengadu dan kepada Engkaulah kami meminta pertolongan dan bantuan. Tidak ada
daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu. Kami tidak kuasa memberi
manfaat bagi diri kami, demikian pula menimpakan madharrat, dan kami tidak
sanggup melakukan satu kebaikan pun jika Engkau tidak memudahkannya, karena
sesungguhnya kami adalah lemah dari berbagai sisi. Kami bersaksi, jika Engkau
menyerahkan kami kepada diri kami meskipun sekejap mata, maka sesungguhnya
Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Oleh
karena itu, kami tidak percaya selain kepada rahmat-Mu yang dengannya Engkau
telah menciptakan kami dan memberi kami rezeki serta mengaruniakan kepada kami
berbagai nikmat dan menghindarkan bencana dari kami. Rahmatilah kami dengan rahmat
yang mencukupkan kami dari rahmat selain-Mu, sehingga tidak akan kecewa orang
yang meminta dan berharap kepada-Mu.
[39]
Oleh karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyandarkan sebagian
hamba-hamba-Nya kepada rahmat-Nya dan mengkhususkan mereka dengan ibadah karena
kemuliaan mereka, mungkin seseorang akan berkata, “Mengapa yang lain tidak
dimasukkan pula dalam ubudiyyah seperti mereka?” Maka di ayat ini Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan, bahwa Dia tidak peduli dengan selain
mereka, dan bahwa seandainya tidak karena doa mereka kepada-Nya, baik doa
ibadah maupun doa masalah, maka Dia tidak peduli dan tidak mencintai mereka.
[40]
Yakni kepada-Nya di saat sulit, lalu Dia mengabulkannya.
[41]
Maksudnya, azab di akhirat akan menimpamu setelah sebagiannya menimpamu di
dunia (oleh karena itu, 70 orang di antara mereka terbunuh dalam perang Badar),
dan Dia akan memberikan keputusan antara kamu dengan hamba-hamba-Nya yang
mukmin. Selesai tafsir surah Al Furqan dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya,
dan segala puji bagi Allah di awal dan akhirnya.
- See more at:
http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-furqan-ayat-63-77.html#sthash.Ehpfou3r.dpuf
Kamis, 16 Maret 2017
Agama Tidak Sekedar Kata-Kata
Manusia Indonesia adalah manusia yang agamis sejak zaman pra sejarah.
Ini mengindikasikan bahwa sejak nenek moyang kita orang Indonesia sudah
mempercayai adanya “sesuatu” yang lebih besar dan lebih kuat dari
dirinya Yang Mengatur Alam Semesta. Mulai dari animisme dan dinamisme
berganti kepada ajaran Hindu Budha dan sekarang yang mayoritas adalah
Islam. Enam agama yang bercokol di Indonesia Islam, Katolik, Protestan,
Hindu, Budha dan yang resmi terakhir adalah Konghucu. Simbol agama yang 6
ini turut mewarnai pembangunan SDM dan SDA yang sedang mengantarkan
Indonesia dari julukan negara berkembang menuju negara Adi Daya atau
Super Power.Agama yang datang ke Indonesia adalah dalam rangka membangun bukan menghancurkan. Dalam rangka memperbaiki bukan merusak. Dalam rangka mengayomi bukan menindas. dalam rangka melindungi bukan memperbudak. Dalam rangka menentramkan bukan memperkeruh situasi. Agama dibutuhkan untuk membangun jiwanya dan membangun badannya. Terlebih Islam, (sebab ideologi agama penulis sendiri Islam) Islam adalah Agama yang membebaskan dari belenggu kegelapan kepada cahaya (minadzulumati ilannur), membebaskan dari perbudakan manusia yang biadab kepada manusia yang beradab, membebaskan dari kebodohan menuju manusia yang pandai bijaksana.
Sebagai agama pembebas, tentu saja ajaran Islam menuntut pemeluknya untuk konsekuen mengamalkannya. Bukan saja konsekuan mengucapkannya, bukan saja konsekuan mendiskusikannya, bukan saja konsekuan mendakwahkannya, bukan saja konsekuen membicarakannya. Islam dan Agama seharusnya bukan sekedar kata-kata. Islam adalah cinta dan pengabdian. Jika kita berbusa-busa berceramah tentang teori ajaran islam semata tanpa bukti pengamalan maka Islam sendiri akhirnya menjadi dogma di menara mercusuar yang tak menyentuh bumi.
Islam Agama cinta dan pegabdian. Cinta dan pengabdian membutuhkan kesadaran dan keikhlasan.Gemar memberi tidak menuntut. Gemar menanam jasa anti tertanam jasa. Wujud transendental Islam adalah pada pemeluknya yang membawa Islam sebagai cinta dan pengabdian. Selayaknya kekasih, ia akan selalu mendekat bukan menjauh, akan menyayangi bukan membenci, akan memperhatikan bukan memvonis, akan membebaskan bukan membelenggu.\
Cinta bukan sekedar kata-kata indah. Itu namanya gombal. Berislam juga tidak cukup hanya dengan kata-kata yang berbau agama, itu juga raja gombal. Islam adalah totalitas dari gerak hati, ucapan dan perbuatan. Ajaran Islam yang indah janganlah kita nistakan sendiri oleh kita pemeluknya. Jika dinista oleh pmemluk bukan Islam itu sudah menjadi sunnatullah. Mereka tidak akan ridlo sampai umat Islam berpindah Aqidah. Namun yang ironis adalah kita sendiri yang menista agama kita sendiri dengan cara tidak konsekuen dengan ajarannya. Kita sendiri yang tidak mau mengakkan amaliah ajaran Islam. Kita sering melanggar ajaran Islam itu sendiri tanpa merasa bersalah. Jika merasa bersalah itu masih ada kesempatan untuk taubat. Merasa melanggarpun tidak. Islam perlu bukti bukan bualan dan teori dan dogma saja. Kita sangat memerlukan orang-orang yang selalu mencinta dan mengabdi. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk Maha Cinta dan Maha Pencipta.
Kata-kata yang paling sederhana dalam ajaran Islam sangat indah dan sederhana. Kita mencintai dengan kata-kata yang sederhana. Namun perlu mati-matian dan sepenuh jiwa untuk merealisasikannya. Misalnya kata ikhlas, cukup familier di telinga kita namun menerapkan keihklasan dalam kehidupan kita, luar biasa sulitnya. Bukan karena ajaran ikhlas yang mempersulit tetapi jiwa kita yang masih belum selaras dengan ajaran itu. Kita masih serakah, kita masih memerlukan pengakuan, kita masih ingin di puji setiap melakukan kebaikan. Kita sendiri belum bisa menghayati bahwa Islam adalah cinta dan pengabdian kepada Sang Kholik semata.
Misalkan kita berceramah tentang pentingnya shalat duha, sederhana saja. Namun pada dasarnya jika kita tidak pernah melakukan shalat duha maka sebenarnya kita telah berbohong dan menista diri kita sendiri. Junjungan kita Nabi SAW tercinta, selalu mengajak dan memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri sudah melakukan. Dengan begitu kita akan tidak sembarangan mendakwahi, menceramahi, atau memerintah orang lain dalam hal agama. Koreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Hasiibu qobla antuhasabuu. Awali dari diri sendiri ibda’ binafsik. Barang siapa yang berusaha mengenal dirinya maka ia sebenarnya berusaha mengenal Tuhannya. Barang siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik maka dalam bergama ia akan mengenal arti cinta dan pengabdian dengan sebenar-benarnya. Karena kebenaran yang mutlak adalah miliknya. Jika kita didekati oleh-Nya maka kita akan difahamkan akan agama. Kejayaaan agama itu sendiri terletak pada keikhlasan para pemeluk-pemeluknya.
Islam sendiri merupakan esensi ajaran akhlak mulia. Jika Nabi SAW adalah Al Quran berjalan, maka siapa lagi yang akan kita jadikan uswatun hasanah kecuali Beliau. Beliau diutus ke dunia ini dalam rangka menyempurnakan akhlak. Akhlak tidak sekedar pintar tetapi lebih mengedepankan rasa dan estetika. Dalam etimologi Jawa ada “bener” ada “pener”. Bener belum tentu pener tetapi kalau pener pasti sudah dianggab bener. Terkadang karena tingginya pendidikan misalnya S3, dia memandang sebelah mata orang yang hanya lulusan SD saja terhadap pendapatnya tentang fenomena yang paling baru. Secara teori benar saja si S3 lebih bisa berpendapat secara lebih runtut namun menghina si SD ini tidak pas. Seharusnya jika dengan akhlak mulia ini, si S3 seharus justru lebih bisa mendengar orang lain, lebih bisa menghargai, lebih santun, lebih “ngemong wong cilik”, lebih santun dalam membicarakan sesuatu dengan kelas pendidikan di bawahnya. Jika dia bisa menghargai maka akhlak si S3 ini akan selalu diingat oleh si SD dari pada sebarek keilmuannya. Nantinya kehormatan si S3 ini bukan lagi atas tingginya ilmu tetapi karena tingginya Akhlak. Wallahu A’lam.
Selasa, 14 Maret 2017
14 Kiat Sukses Hidup Bahagia
Banyak cara untuk hidup bahagia. Bahagia adalah cara pandang. Bahagia adalah efek ideologi, konsep, dan perilaku kita dalam memandang hidup. Kita tentu saja ingin menjadi manusia yang selalu bahagia. Kebahagiaan itu hanya bisa terjadi jika seseorang menyandarkan hidupnya hanya pada Allah. Kita ingin hidup sukses di dunia dan juga sukses di akhirat. Kita ingin bahagia di dunia juga bahagia di akhirat. Meskipun di dunia ini selalu berpasang-pasangan misalnya ada siang ada malam, ada bahagia ada duka. Meski demikian para kekasih-kekasihnya menjalani kehidupan di dunia ini sudah dalam keadaan bahagia. Manusia mana lagi yang akan kita jadikan teladan dalam hal kebahagiaan kecuali hanya para kekasih-kekasihNya. Mereka tidak merasa ketakutan dan tidak pula bersedih hati. Mereka menjadi manusia paling bahagia di dunia dan di akhirat. Dalam situasi apapun, kapanpun dan dimanapun mereka akan bahagia karena kebahagiaan bagi mereka adalah menyendiri berdua bersama Rabb-nya. Mereka bermesraan bersama kekasihnya. Tak sedetikpun mereka ingin terlepas ingatan dan hidupnya dengan Kekasih Yang Maha Agung yaitu Allah SWT.
Adapun 14 kiat sukses agar kita bisa hidup bahagia yaitu :
1. Taqwa
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". (QS Ath Thalaq).
Sesungguhnya manusia dihadapan-Nya sama, sama-sama makhluk-Nya yang lemah dan tak berdaya. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya. Hanya taqwa-lah yang membedakan derajat kepangkatan di hadapan-Nya. Bukanlah kepandaian, kecantikan, kekayaan, dan jabatan yang menjadi ukuran akhirat. Semoga kita termasuk muttaqin.
2. Tawakkal
Nabi SAW bersabda: "Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pergi pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang". (HR Ahmad, At Tharmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim dari Umar Bin Khattab r.a).
Menyandarkan segala persoalan terhadap Allah SWT adalah hal utama dan pertama. Maka usaha apapaun hasilnya kita akan menerima dengan lapang dada dan penuh syukur karena sudah menyandarkan kepada-Nya bahwa hasil berapapun berasal dari pemberian-Nya.
3. Shalat Duha
Firman Allah dalam hadits Qudsi : "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (shalat duha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya". (HR Al Hakim dan Thabrani).
Betapa banyak hal yang bisa kita lakukan sebenarnya untuk menarik simpati dari Allah SWT. Banyak hal yang bisa kita usahakan agar menambah perhatian Allah kepada kita. Salah satunya shalat duha. Shalat yang sering terlewatkan di pagi hari karena star bekerja rata-rata pada waktu pagi. di saat-saat seperti itu kita berusaha menyapa-Nya. Maka alangkah bahagia kita bisa menyapa Dia disela-sela kesibukan dengan bersujud pada-Nya.
4. Shalat Tahajud
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim hujankan hujan padamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS Nuh: 10-12).
"Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesimpatannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka". (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim).
6. Silaturrahmi
Imam Bukhari r.a meriayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim."
7. Sedekah
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS AL Baqarah: 261).
Sabda Nabi SAW: "Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena (sedekah kepada) orang-orang lemah di kalangan kamu." (HR Bukhari)
8. Berbuat Kebaikan
"Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan". (QS Al Qashash: 84).
Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan dzalim pada hambanya yang berbuat kebaikan, dia akan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat." (HR. Ahmad).
9. Bangun Lebih Pagi
Fatimah r.a (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau SAW mengatakan padanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari". (HR Al Baihaqi).
Aisyah r.a juga menceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah SAW bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan." (HR At Thabrani).
10. Bersyukur
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita ingin menjadi hamba yang bersykur/abdan syakuura. kehidupan ini layak untuk kita syukuri bila kita kenal dengan Pencipta Kehidupan. Bagi mereka yang kenal dengan-Nya maka tidak ada alasan untuk kufur akan segala nikmat-Nya. Semakin kita akrab dengan-Nya semakin kita akan mensyukuri kehidupan.Semoga kita diberikan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan baik kehidupan dunia maupun kehidupan di kahirat nanti. Amiinn.
11. Baca Al Quran
Membaca Al Quran adalah mutlaq bagi para pencari kebahagiaan. Karena Al Quran adalah obat dari segala obat. Al Quran adalah sumber jawaban dari banyak pertanyaan. Membaca al Quran memberi efek bahagia. Maca Al Qur'an angen-angen sak maknane jika mampu. Jka belum mampu cukup rutin membaca Al Qur'an saja. Lakukan saja maka akan mendapatkan pahala. Itulah bedanya perkara agama dan perkara dunia. itulah bedanya bacaan yang mengandung unsur ilahi dan bacaan yang hanya sekedar bacaan yang bersifat imajinasi dan keduniaan. Jika Al Qur'an dibaca-baca berulang-ulang akan mempunyai efek tertentu bagi si pembaca. Namun jika kita membaca bacaan yang kita tidak tahu artinya misalnya novel dalam bahasa arab maka tidak akan terjadi efek yang signifikan pada diri pembacanya.
12. Deket Dengan Orang Shalih
Dengan dengan dekat sama para ulama, auliya dan shalihin kita akan terkena asrarnya Kanjeng Nabi SAW. Telak kita akan merasakan sesuatu yang luar biasa bahagia mendapat setrum dari kanjeng Nabi dan mereka-meraka.
13. Berpuasa
Maksudnya adalah menambah diri dengan puasa-puasa sunnah selain dari puasa yang wajib.
14. Perbanyak Dzikir
Firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyak nya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi maupun petang!”.
Dan firman-Nya: فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ………..
“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)
Firman-Nya : اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم
“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”. (Ali Imran :191)
Firman-Nya : وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ
مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا.
“Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”. (Al-Ahzab :35)
Firman-Nya lagi : الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ
ألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ.
“Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (Ar-Ro’d : 28)
Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda : Allah swt.berfirman :
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة.
“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Wallahu a'lam.
Adapun 14 kiat sukses agar kita bisa hidup bahagia yaitu :
1. Taqwa
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". (QS Ath Thalaq).
Sesungguhnya manusia dihadapan-Nya sama, sama-sama makhluk-Nya yang lemah dan tak berdaya. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya. Hanya taqwa-lah yang membedakan derajat kepangkatan di hadapan-Nya. Bukanlah kepandaian, kecantikan, kekayaan, dan jabatan yang menjadi ukuran akhirat. Semoga kita termasuk muttaqin.
2. Tawakkal
Nabi SAW bersabda: "Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pergi pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang". (HR Ahmad, At Tharmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim dari Umar Bin Khattab r.a).
Menyandarkan segala persoalan terhadap Allah SWT adalah hal utama dan pertama. Maka usaha apapaun hasilnya kita akan menerima dengan lapang dada dan penuh syukur karena sudah menyandarkan kepada-Nya bahwa hasil berapapun berasal dari pemberian-Nya.
3. Shalat Duha
Firman Allah dalam hadits Qudsi : "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (shalat duha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya". (HR Al Hakim dan Thabrani).
Betapa banyak hal yang bisa kita lakukan sebenarnya untuk menarik simpati dari Allah SWT. Banyak hal yang bisa kita usahakan agar menambah perhatian Allah kepada kita. Salah satunya shalat duha. Shalat yang sering terlewatkan di pagi hari karena star bekerja rata-rata pada waktu pagi. di saat-saat seperti itu kita berusaha menyapa-Nya. Maka alangkah bahagia kita bisa menyapa Dia disela-sela kesibukan dengan bersujud pada-Nya.
4. Shalat Tahajud
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS Al Isra': 79)
Dalam surah Adz Dzariyaat : 15 - 18
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar".
5.Istighfar
إِنَّ
الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (١٥) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ
رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (١٦) كَانُوا
قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (١٧) وَبِالأسْحَارِ هُمْ
يَسْتَغْفِرُونَ (١٨
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar".
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim hujankan hujan padamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS Nuh: 10-12).
"Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesimpatannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka". (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim).
6. Silaturrahmi
Imam Bukhari r.a meriayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim."
7. Sedekah
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS AL Baqarah: 261).
Sabda Nabi SAW: "Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena (sedekah kepada) orang-orang lemah di kalangan kamu." (HR Bukhari)
8. Berbuat Kebaikan
"Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan". (QS Al Qashash: 84).
Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan dzalim pada hambanya yang berbuat kebaikan, dia akan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat." (HR. Ahmad).
9. Bangun Lebih Pagi
Fatimah r.a (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau SAW mengatakan padanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari". (HR Al Baihaqi).
Aisyah r.a juga menceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah SAW bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan." (HR At Thabrani).
10. Bersyukur
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita ingin menjadi hamba yang bersykur/abdan syakuura. kehidupan ini layak untuk kita syukuri bila kita kenal dengan Pencipta Kehidupan. Bagi mereka yang kenal dengan-Nya maka tidak ada alasan untuk kufur akan segala nikmat-Nya. Semakin kita akrab dengan-Nya semakin kita akan mensyukuri kehidupan.Semoga kita diberikan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan baik kehidupan dunia maupun kehidupan di kahirat nanti. Amiinn.
11. Baca Al Quran
Membaca Al Quran adalah mutlaq bagi para pencari kebahagiaan. Karena Al Quran adalah obat dari segala obat. Al Quran adalah sumber jawaban dari banyak pertanyaan. Membaca al Quran memberi efek bahagia. Maca Al Qur'an angen-angen sak maknane jika mampu. Jka belum mampu cukup rutin membaca Al Qur'an saja. Lakukan saja maka akan mendapatkan pahala. Itulah bedanya perkara agama dan perkara dunia. itulah bedanya bacaan yang mengandung unsur ilahi dan bacaan yang hanya sekedar bacaan yang bersifat imajinasi dan keduniaan. Jika Al Qur'an dibaca-baca berulang-ulang akan mempunyai efek tertentu bagi si pembaca. Namun jika kita membaca bacaan yang kita tidak tahu artinya misalnya novel dalam bahasa arab maka tidak akan terjadi efek yang signifikan pada diri pembacanya.
12. Deket Dengan Orang Shalih
Dengan dengan dekat sama para ulama, auliya dan shalihin kita akan terkena asrarnya Kanjeng Nabi SAW. Telak kita akan merasakan sesuatu yang luar biasa bahagia mendapat setrum dari kanjeng Nabi dan mereka-meraka.
13. Berpuasa
Maksudnya adalah menambah diri dengan puasa-puasa sunnah selain dari puasa yang wajib.
14. Perbanyak Dzikir
Firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyak nya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi maupun petang!”.
Dan firman-Nya: فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ………..
“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)
Firman-Nya : اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم
“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”. (Ali Imran :191)
Firman-Nya : وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ
مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا.
“Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”. (Al-Ahzab :35)
Firman-Nya lagi : الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ
ألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ.
“Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (Ar-Ro’d : 28)
Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda : Allah swt.berfirman :
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة.
“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)

